1000791282
Kembaran Dika 

#Anekdot karya Raffi Rihandika, Alumni 9AP

Suatu hari di sekolah saat istirahat, saya sedang berjalan di koridor menuju kantin bersama beberapa teman. Di depan kami ada seorang teman sekelas yang kebetulan mengenakan jaket yang hampir mirip dengan jaket yang biasa dipakai oleh Dika, teman dekat saya. Tanpa pikir panjang, saya segera memanggilnya sembari menepuk pundaknya, “Dika, gih ayo cepat! Kita ke kantin!” 

Orang itu menoleh dengan wajah bingung, lalu menjawab, “Eh, saya bukan Dika, lho.” 

Saya pun kaget dan langsung merasa panik. Ternyata, orang yang saya panggil itu bukan Dika, melainkan Teo, teman sekelas lain yang jarang saya ajak bicara. Teo hanya tersenyum kaku, sementara teman-teman saya sudah tertawa terbahak-bahak melihat situasi ini. 

“Jadi, siapa yang mau ke kantin?” tanya Teo sambil tertawa kecil, sementara saya cuma bisa tersenyum malu dan berkata, “Maaf, Teo, saya kira kamu Dika.” 

Sejak saat itu, saya jadi lebih berhati-hati kalau ingin memanggil teman, apalagi kalau penampilannya mirip, tapi memang Dika dan Teo mirip. Yang pasti, saya nggak akan pernah lupa perasaan kikuk saat salah panggil di tengah keramaian sekolah, kikik. (raf)

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait