IMG-20250317-WA0003
Resensi buku “Merayakan Kesedihan Laut Pasang 1994”
  • #Resensi karya: Pegy Pramitha

Penulis: Lilpudu

Negara: Indonesia 

Bahasa: Indonesia 

Genre: ANGST

Penerbit: Tekad

Tanggal terbit: 2023

Halaman: 220 halaman

Ukuran buku: 14 × 20 cm

ISBN: 978-623-09-5013-1

Ternyata, dibalik setiap perbuatan, selalu ada balasan. 

Bapak tidak pernah menyangka jika hidup dalam rasa penyesalan yang begitu besar akan sangat menyakitkan. Dan justru, sesuatu yang paling menyakitkan itu bukanlah KEHILANGAN karena kematian.

Tetapi, saat Bapak harus menjalani hari-hari setelah KEHILANGAN itu sendiri.

Hanya dua dari ketujuh putranya yang selamat. Bapak seperti diberi hukuman yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa bapak lewati.

Dan Bapak selalu bilang.

“Tuhan, ini di luar batas kemampuanku”

Pemilihan warna font dibagian belakang sampul terlalu gelap, sehingga sinopsis terlihat kurang jelas. Alur cerita juga terus mengulang peristiwa namun dengan sudut pandang yang berbeda.

Novel ini memiliki pesan kehidupan yang bagus dan ilustrasi yang menarik. Gaya penulisan juga mudah dipahami dan tidak berlebihan.

Novel ini memang memiliki pesan kehidupan yang berarti, apalagi tentang kehilangan karena kematian. Namun, novel ini mengajarkan kita untuk tidak terlarut dalam kesedihan dan bangkit lebih kuat meskipun ditinggal oleh orang yang kita sayangi karena itu adalah kehendak tuhan yang tidak bisa dibantah. (Pgy)

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait