roti bakar meses
Roti Meses Istimewa

#Anekdot karya Jihanita Talitha, 9B

Sore-sore, perutku sudah mulai bunyi “krucuk krucuk” nggak berhenti. Tentu itu karena di rumah tidak ada siapa pun yang berinisiatif untuk membuat makanan.

“Oke, waktunya bikin roti bakar cokelat,” kataku dengan penuh semangat.

Aku ambil roti tawar dua lembar, oles mentega, selanjutnya menaburkan meses cokelat banyak-banyak biar mantap. Akan tetapi, gara-gara tanganku terlalu heboh, sebagian mesesnya malah jatuh ke meja dan lantai. Aku cuma melirik sebentar dan bilang dalam hati,

“Ah, bisa diambil lagi, masih bersih, kok.”

Setelah roti bakarku matang, aromanya luar biasa. Manis, gurih, wangi banget! Aku pun duduk sambil senyum-senyum, bangga melihat hasil karya yang siap kusantap sendirian. Sebelum makan,  mataku sempat sejurus berhenti bergerak saat menemukan beberapa butir meses di lantai.

“Sayang banget kalau dibuang,” pikirku.

Jadi aku pungut satu-satu dan langsung kumasukkan ke mulut.

Nah, di sinilah tragedi bermula. Saat aku mengunyah, kok rasanya aneh? Nggak manis, malah pahit, asin, dan agak… gimana, ya. Bau-bau tidak sedap. Aku langsung mikir,

“Lho, meses expired, ya?” Aku jongkok, melihat lantai lebih dekat.  Saat itu juga aku terdiam. Yang kukira meses, ternyata kotoran cicak!

Reflek, aku langsung teriak,

“AAAAAAAAAK!!!”

Lalu lari ke wastafel dengan cepat. Aku kumur-kumur, cuci mulut, gosok gigi, bahkan sempat hampir minum sabun cair saking paniknya. (red)

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait